Agresi Militer Belanda 1 : Latar Belakang, Tujuan, dan Kronologi

191
5/5 (1)

Latar Belakang Agresi militer Belanda 1 adalah Belanda yang tidak mengerima hasil perundingan LInggarjati yang telah disepakati bersama pada tanggal 25 Maret 1947. Atas dasar tersebut kemudian pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan agresi militer pertamanya untuk menggempur beberapa wilayah di Indonesia.

Baca: Perjanjian Linggarjati (Isi Perjanjian, Dampak Positif dan Negatif)

Pada tanggal 15 Juli 1947, Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.j. van Mook, menyampaikan pidato radio bahwa Belanda tidka lagi terikat dengan Perjanjian Linggarjati. Puncaknya ketika Belanda melancarkan serangan terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Indonesia. Serangan ini dikenal sebagai Agresi Militer Belanda Pertama yang berlangsung pada tanggal 21 Juli 1947.

Tujuan Agresi Militer Belanda 1

Tujuan utama dari agresi militer Belanda sesungguhnya adalah  merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak.

Untuk mengelabui dunia internasionak, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil (Politionele acties), yaitu mengatasi kekacauan akibat teror dan huru-hara serta memulihkan ketertiban dan stabilitas Indonesia. Maka, dalam propaganda Belanda, rakyat Indonesia yang melakukan perlawanan adalah kelompok pengacau dan penganggu stabilitas.

Kronologi Peristiwa Agresi Militer Belanda 1

Selanjutnya, tentara Belanda memfokuskan serangan pada tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau di Jawa Tengah, mereka menguasai seluruh pantai utara dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah-wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik gula.

Agresi ini memang berhasil merebut daerah-daerah di wilayah Republik Indonesa yang sangat penting dan kaya seperti kota pelabuhan, perkebunan, dan pertambangan.

Pada agresi militer pertama ini, Belanda juga mengerahkan kedua pasukan khusus, yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di bawah Raymond Westerling yang kini berpangkat Kapten serta Pasukan Para I (le para compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar.

Pada tanggal 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan simbol Palang Merah di bawan pesawat yang membawa obat-obatan dari singapura, “sumbangan Palang Merah Malaya” ditembak jatuh oleh Belanda di Dusun Ngoto, Yogyakarta, yang menewaskan Komodor Muda Udara Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara dr. Abdulrahman Saleh, dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryousumo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here