Apa Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika?

644

Apa Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika? Pancasila adalah dasar negara bangsa indonesia dan ideologi bangsa. Makna Pancasila sebagai dasar negara adalah Pancasila dijadikan pedoman atau dasar negara indonesia dan tujuan hidup indonesia seperti halnya ketika suatu negara yang tidak mempunyai tujuan.

Negara yang tidak memiliki tujuan tersebut akan terombang-ambing dan tak akan bertahan lama oleh sebab itu pancasila memiliki makna dan peran penting dalam membangun indonesia kuat dan hebat yang mampu bargandeng tangan untuk menjunjung cita-cita bersama yaitu cita cita untuk membuat indonesia hebat dan menunjukkan pada dunia bahwa indonesia bisa.

Pancasila dilambangkan dengan burung garuda dengan logi tameng di dadanya, didalam tameng tersebut terdapat logo-logo yang melambangkan sifat-sifat terpuji masyarakat Indonesia. Di bagian bawah terdapat sebuah bingkai yang dibawa oleh burung garud bersembyankan “Bhineka Tunggal Ika”, berikut arti semboyan tersebut.

Apa arti semboyan Bhineka Tunggal Ika?

Arti dari semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah berbeda beda tetapi tetap satu jua artinya walaupun negara Indonesia memiliki banyak keanekaragaman budaya rakyat Indonesia memiliki tujuan yang sama.

Baca: Mengapa Persatuan Sangat Penting Bagi Bangsa Indonesia

Semboyan ini terdapat di lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila, letaknya dibawah sendiri dan dicengram oleh kaki burung garuda. Semboyan tersebut memiliki makna bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa majemuk di mana terdapat banyak suku bangsa, bahasa, agama, dan pandangan politik. Meski demikian Bangsa Indonesia memiliki satu tujuan yang sama yaitu kesejahteraan bersama dan tumbuh sebagai bangsa yang kuat seperti yang tercantum di poin poin Pancasila.

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika berasal dari bahasa Sansekerta, dan tertulis di kitab Sutasoma karangan Empu Tantular.

Baca: Apa Hubungan Persatuan dan Keberagaman

Suhandi Sigit Dalam bukunya yang berjudul Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (2012:196) mengemukakan bahwa ungkapan Bhinneka Tunggal Ika dapat ditemukan dalam Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad XIV di masa Kerajaan Majapahit.

Dalam kitab tersebut Mpu Tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina(Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua).

Baca: Bagaimana Menjaga Komitmen Persatuan Bangsa

Jika diartikan dari sepenggal arti setiap bahasa jawa kuno tersebut   secara harfiah mengandung arti bhinneka (beragam), tunggal (satu), ika (itu) yaitu beragam satu itu.

Selain itu, Bhineka Tunggal Ika juga menjadi perbincangan diantara para tokoh saat  sebelum Proklamasi antara Muhammad Yamin, Bung Karno, I Gusti Bagus Sugriwa dalam sidang-sidang BPUPKI. Bahkan Bung Hatta sendiri mengatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno setelah Indonesia merdeka.

Setelah beberapa tahun kemudian ketika merancang Lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk Garuda Pancasila, semboyan Bhinneka Tunggal Ika dimasukkan ke dalamnya.

Secara resmi lambang tersebut dipakai dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang dipimpin Bung Hatta pada 11 Februari 1950 berdasarkan rancangan yang dibuat oleh Sultan Hamid II (1913-1978).

Dalam sidang tersebut muncul beberapa usulan rancangan lambang negara, kemudian yang dipilih adalah usulan yang dibuat Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin, dan rancangan dari Sultan Hamid yang kemudian ditetapkan.

Para pendiri bangsa Indonesia yang sebagian besar beragama Islam tampaknya cukup toleran untuk menerima warisan Mpu Tantular tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here