Berakhirnya Orde Baru dan Lahirnya Reformasi di Indonesia

33

Berakhirnya pemerintahan Orde Baru – Penyebab runtuhnya masa pemerintahan Orde Baru adalah terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 hingga tahun berikutnya. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus mengalami kemunduran seiring dengan krisis keuangan yang melanda benua Asia. Keadaan terus memburuk dengan adanya KKN, dan kemiskinan rakyat terus meningkat. Terjadinya ketidakadilan sosial yang sangat mencolok menyebabkan munculnya beberapa kerusuhan sosial. Seperti munculnya demonstrasi yang digerakkan oleh mahasiswa dengan tuntutan utama yaitu perbaikan ekonomi dan reformasi total.

Salah satu demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998. Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu peristiwa yang mengakibatkan meninggalnya empat mahasiswa Universitas Trisakti karena bentrokan dengan aparat keamanan. Empat mahasiswa yang gugur tersebut adalah Elang Mulya Lesmana, Hendriawansie, Hery Hariyanto, dan Hafidin Royan. Keempat mahasiswa yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai “Pahlawan Reformasi”.

Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden saat itu yakni Soeharto berjanji akan melakukan perombakan Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu, Soeharto juga akan membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU Susduk MPR, UU Kepartaian, DPR, dan DPRD, UU Antikorupsi dan UU Antimonopoli, . Dalam perkembangannya Komite Reformasi belum terbentuk sepenuhnya karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi tersebut. Penolakan tersebut dikarenakan Presiden Soeharto muncur dari jabatannya.

Baca: Pengertian Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Dibalik itu semua, terdapat keberhasilan Pemerintahan Orde Baru dalam melaksanakan pembangunan ekonomi yang bisa dikatakan sebagai suatu prestasi besar bagi bangsa Indonesia. Ditambah dengan meningkatnya fasilitas sarana dan prasarana fisik infrastruktur yang dapat dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.  Namun, keberhasilan dalam bidang ekonomi maupun infrastruktur tersebut memiliki nilai minus karena kurang diimbangi dengan pembangunan mental (character building) para pelaksana pemerintahan (birokrat), aparat keamanan maupun pelaku ekonomi (pengusaha/konglomerat). Oleh karena itu, banyak terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sudah menjadi budaya (bagi pengusaha, aparat, dan penguasa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here