Homo sapiens artinya manusia cerdas. Homo sapiens berasal dari zaman holosen. Dalam kehidupannya, Homo sapiens sudah menggunakan akal dan memiliki sifat seperti manusia modern sekarang, tetapi kehidupan Homo sapiens masih sederhana.

Ciri-Ciri Homo sapiens secara umum antara lain tinggi badan sekitar 130 hingga 210 cm, memiliki volume otak 1.000-1.200 cc, otot tengkuk mengalami penyusutan, alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan, mua tidak menonjol, berdiri dan berjalan tegak, berdagu, dan tulang rahangnya tidak terlalu kuat.

Berdasarkan daerah temuannya, di Indonesia Homo sapiens dibedakan menjadi 3 yaitu Homo wajakensis, Homo soloensis, dan Homo floresiensis. Nah, untuk lebih mengetahui mengenai jenis Homo sapiens tersebut, bisa dilihat beserta ciri-cirinya di bawah ini.

1. Homo wajakensis (Manusia dari Wajak)

Ciri-Ciri Homo Wajakensis, Soloensis, dan Floresiensis
Homo wajakensis

Homo wajakensis ditemukan di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur pada tahun 1889 oleh Van Rietschotten di lapisan pleistosen atas. Van Rietschotten menemukan beberapa bagian tengkoran manusia purba.

Temuan tersebut kemudian diselidiki oleh Eugene Dubois dan diberi nama Homo wajakensis. Berdasarkan lapisan asalnya (pleistosen atas), Homo wajakensis termasuk ras Australoid dan bernenek moyang Homo sapiens, serta menurunkan penduduk asli Australia. Oleh karena sudah mengenal upacara penguburan, maka oleh Von Koesnigswald, Homo wajakensis dikategorikan dalam jenis Homo sapiens.

Ciri-Ciri Homo wajakensis

Adapun ciri-ciri Homo wajakensis adalah sebagai berikut.

  • Kapasitas tengkorak 1.650 cc.
  • Muka lebar.
  • Hidung lebar tetapi rata.
  • Orbit mata persegi.
  • Rahang bawah dan gigi berukuran besar.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa tubuh Homo wajakensis tinggi, isi tengkoraknya besar, dan dapat dikategorikan ke dalam jenis Homo sapiens. Namun, para ahli menentukan ras Homo sapiens karena Homo sapiens termasuk ras Mongoloid dan Austromelanesoid.

2. Homo soloensis (Manusia dari Solo)

Ciri-Ciri Homo Wajakensis, Soloensis, dan Floresiensis
Homo soloensis

Fosil Homo soloensis pertama kali ditemukan pada tahun 1931-1932 oleh ahli geologi Belanda, yaitu C. Ter Haar dan Ir. Oppenoorth. Kedua ahli tersebut menemukan seelas tengkorak fosil Homo soloensis di lapisan pleistosen atas, yang kemudian diselidiki oleh Von Koegnigswald dan Weidenrich.

Berdasarkan fosil yang ditemukan, para ahli memperkirakan Homo soloensis bukan kera, melainkan manusia. Diperkirakan Homo soloensis hidup sekitar 900.000-300.000 tahun yang lalu.

Menurut Von Koenigswald, Homo soloensis lebih tinggi tingkatannya bila dibandingkand engan Homo erectus. Para ahli memperkirakan Homo soloensis merupakan evolusi dari Pithecanthropus mojokertensis. Homo soloensis oleh sebagian ahli digolongkan sezaman dengan Homo soloensis oleh sebagian ahli digolongkan sezaman dengan Homo neanderthalensis yang merupakan manusia purba jenis Homo sapiens. Berikut ciri-ciri Homo soloensis.

Ciri-Ciri Homo soloensis

Adapun ciri-ciri Homo soloensis adalah sebagai berikut.

  • Memiliki volume otak 1.000-2.000 cc.
  • Tinggi badan 130-210 cm.
  • Otot tengkuk mengalami penyusutan.
  • Muka tidak menonjol.
  • Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna.

3. Homo floresiensis (Manusia dari Flores)

Ciri-Ciri Homo Wajakensis, Soloensis, dan Floresiensis
Homo floresiensis

Homo floresiensis merupakan salah satu jenis manusia purba Indonesia yang ditemukan oleh sekelompok peneliti dari Indonesia (peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional yang dipimpin oleh R.O. Soedjono) dan Mike Morwood dari Australia. Dalam penelitian tahun 2003 berhasil menemukan fosil kerangka manusia kecil jenis hobit yang diperkirakan berusia 18.000 tahun. Fosil tersebut ditemukan di Liang Bua, sebuah gua kapur yang ada di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Fosil kerangka hobit yang ditemukan berjenis kelamin wanita dengan ukuran tubuh jauh lebih kecil dibandingkan ukuran manusia normal. Selain fosil kerangka hobit, juga ditemukan fosil tikus raksasa sebesar kucing, gajah kerdil yang disebut stegodon, fosil komodo, dan peralatan dari batu seperti yang digunakan Homo erectus, tetapi berukuran jauh lebih kecil.

Selanjutnya, temua fosil kerangka hobit tersebut diumumkan sebagai spesies manusia baru yang disebut dengan Homo floresiensis atau manusia dari Flores. Diperkirakan Homo floresiensis hidup sekitar 18.000 tahun lalu di Kepulauan Flores.

Ciri-Ciri Homo floresiensis

Adapun ciri-ciri Homo floresiensis adalah sebagai berikut.

  • Memiliki tinggi 100 cm.
  • Berat badan 30 kg.
  • Berjalan tegak.
  • Tidak memiliki dagu.

Penyebutan Homo floresiensis sebagai manusia baru masih menuai kontroversi. Menurut harian Sydney Morning Heraldya terbit pada tanggal 19 November 2009, para ilmua menyatakan bahwa hobit yang ditemukan merupakan spesies yang belum diketahui.

Adapun menurut Teuku Jacob, ahli paleoantropologi dari Universitas Gadjah Mada, Homo floresiensis bukan spesies baru, melainkan nenek moyang orang-orang katai Flores yang menderita microcephalia (bertengkorak kecil dan berotak kecil). Penyakit ini sampai sekarang masih ditemukan pada beberapa penduduk yang hidup di sekitar Gua Liang Bua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here