Hasil Konferensi Inter Indonesia Bidang Pertahanan dan Militer

359
5/5 (1)

Konferensi Inter Indonesia – Sebelum berlangsungnya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haaq, telah dilakukan dahulu pendekatan-pendekatan dan kordinasi dengan Bijeenkomst voor Federaal Qoverleg (BFO), terutama yang berkaitan dengan pembentukan Republik Indonesia Serikat. Konferensi Inter Indonesia dipandang penting untuk menyatukan pandangan politik dalam rangka menghadapi Belanda dalam KMB. Konferensi Inter Indonesia ini baru dilaksanakan setelah para pemimpin Indonesia kembali ke Yogyakarta.

Konferensi Inter Indonesia ini berlangsung dalam dua tahap. Pada tahap pertama yang berlangsung pada 19-22 Juli 1949, di Kaliurang, Yogyakarta. Pelaksanaannya dipimpin oleh Muhammad Hatta. Sementar itu, tahap kedua, yang berlangsung pada 31 Juli-3 Agustus 1949, diadakan di Jakarta di bawah pimpinan Sultan Hamid selaku ketua BFO.

Pembicaraan dalam konferensi Inter Indonesia hampir seluruhnya tentang masalah pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS), diantaranya menyangkut masalah tata susunan dan hak pemerintah RIS serta bentuk kerja sama antara RIS dan Belanda dalam perserikatan Uni tu. Dalam hal ini BFO mendukung tuntutan Indonesia atas penyerahan kedaulatan tanpa ikatan-ikatan politik ataupun ekonomi.

Hasil Konferensi Inter Indonesia

Dalam bidang pertahanan dan militer, konferensi ini memutuskan beberapa hal sebagai berikut.

  • Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIL) merupakan angkatan perang nasional.
  • TNI merupakan kekuatan inti APRIS.  APRIS akan menerima orang-orang Indonesia yang ada di dalam kesatuan KNIL, VB (Veillighelds Bataljons), dan kesatuan tentara Belanda lainnya dengan syarat-syarat yang akan ditentukan lebih lanjut.
  • Pertahanan negara akan menjadi tugas dan hak pemerintahan RIS. Negara-negara bagian lain tidak mempunyai angkatan perang sendiri.
Kesepakatan ini mempunyai arti penting karena akan dijadikan bekal dalam menghadapi perundingan-perundingan selanjutnya dengan Belanda.
Pada tanggal 1 Agustus 1949,  Indonesia dan Belanda bersepakat menghentikan tembak-menembak. Kesepakatan ini berlaku efektif mulai tanggal 11 Agustus 1949 untuk seluruh Jawa, sedangkan untuk wlayah Sumatra dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 1949. Keberhasilan dari kesepakatan-kesepakatan inilah yang memungkinkan terselenggaranya Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda dari bulan Agustus sampai November 1949.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here