Kebudayaan Kjokkenmoddinger dan Abris Sous Roche – Zaman batu terus berkembang hingga memasuki zaman batu madya/batu tengah/zaman mesolitikum. Bila dibandingkan dengan hasil kebudayaan zaman paleolitikum, hasil kebudayaan zaman batu madya/tengah sudah lebih maju.

Walaupun demikian, bentuk dan hasil-hasil kebudayaan zaman paleolitikum tidak serta merta punah, tetapi mengalami penyempurnaan. Bentuk flake dan alat-alat dari tulang terus mengalami perkembangan. Kebudayaan mesolitikum secara garis besar terbagi menjadi dua kelompok besar yang ditandai dengan lingkungan tempat tinggal (pantai dan gua).

Kebudayaan Kjokkenmoddinger

Di sepanjang pesisir Sumatra Timur Laut, antara Langsa (Aceh) sampai dengan Medan ditemukan bekas-bekas tempat tinggal manusia dari zaman batu madya. Penemuan tersebut berupa tumpukan kulit kerang yang membatu setinggi ±7 meter. Dalam bahasa Denmark, tumpukan kulit kerang ini disebut kjokkenmoddinger (sampah dapur). Kjokken artinya dapur dan modding artinya sampah.

Kjokkenmoddinger merupakan ciri utama kehidupan zaman batu tengah yang ditandai oleh penumpukan sampah dapur berupa kulit siput dan kerang di daerah sepanjang pantai. Tumpukan sampah tersebut akibat setiap generasi bertempat tinggal sama sehingga mereka membuang sampah pad atempat yang sama pula. Hal tersebut membuktikan juga bahwa mereka sudah hidup menetap. Dengan kjokkenmoddinger tersebut dapat memberi informasi bahwa manusia purba pada zaman ini umumnya bertempat tinggal di tepi pantai.

Dr. P.V. van Stein Callenfels pada tahun 1925 melakukan penelitian di Bukit Kerang di sapanjang pantai timur Sumatra, yaitu antara Langsa dan Medan. Hasil penelitian tersebut banyak ditemukan kapak genggam. Kapak genggam ini berbeda dengan kapak genggam pada zaman paleolitikum. Dalam hal pembuatannya jauh lebih halus. Kapan genggam ini disebut pebble atau kapak genggam Sumatra (Sumatralith) sesuai dengan tempat penemuannya. Bentuk kapak genggam ini bulat, dibuat dari batu kali dengan cara membelah batu kali menjadi dua bagian dan bagian belahan tersebut diasah lagi sehingga menjadi agak halus.

Selain Pebble ditemukan juga kapak pendek (hache courte). Kapak pendek (hache courte) adalah sejenis kapak genggam yang bentuknya kira-kira setelah lingkaran, dibuat dengan memukuli dan memecahkan batu tanpa diasah, tajamnya terdapat pada sisi yang lengkung.

Hasil budaya lain yang cukup menonjol pada zaman mesolitikum adalah lukisan gua. Lukisan gua ini diteliti oleh dua orang bersaudara, yaitu Roder dan Galis. Lukisan gua yang diteliti oleh mereka terutama yang ada di Papua. Dari hasil penelitian Roder dan Galis, terdapat bukti bahwa lukisan tersebut dibuat dengan tujuan berikut.

  1. Sebagai bagian dari ritual agama, seperti upacara untuk menghormati nenek moyang, upacara memohon kesuburan, dan upacara meminta hujan.
  2. Untuk keperluan ilmu magis.
  3. Memperingati peristiwa penting yang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka.

Lukisan gua tersebut hampir menyebar di seluruh kepulauan Indonesia terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Hal yang menarik dari lukisan gua ini adalah tema dan bentuk lukisan menunjukkan kemiripan antara yang satu dan yang lain, walaupun lukisan tersebut ditemukan di dua tempat berbeda. Lukisan gua ini sudah mengenal teknik pewarnaan. Untuk warna merah berasal dari hematite (oksida besi atau oker merah), warna putih dari kaolin (kapur), dan warna hitan terbuat dari arang atau mangan dioksida.

Kebudayaan Abris Sous Roche

Di abris sous roche banyak ditemukan alat-alat batu dan tulang dari zaman batu madya. Abris sous roche adalah gua-gua yang digunakan sebagai tempat tinggal. Gua tersebut menyerupai ceruk untuk berlindung dari panas dan hujan. Pada tahun 1928-1931, Van Stein Callenfels mengadakan penelitian pertama mengenai abris sous roche di Gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur.

Hasil kebudayaan yang ditemukan di Gua Lawa tersebut adalah alat-alat dari batu, seperti mata panah, flake, batu-batu penggiling, serta alat-alat dari tulang dan tanduk. Oleh karena sebagian besar alat-alat yang ditemukan di Sampung berupa alat-alat dari tulang, maka disebut dengan kebudayaan Tulang Sampung (Sampung Bone Culture).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here