Kerajaan islam di Jawa (Demak, Mataram, Banten)

51

Kerajaan Islam di pulau Jawa,- Bukti masukya Islam di tanah Jawa terdapat pada makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat tahun 475 H atau 1082 M di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Melalui bukti tersebut bisa dipastikan bahwa Islam itu sudah lama masuk ke Pulau Jawa sebelum bangsa Barat menjejakkan kaki di Pulau Jawa. Berikut tiga kerajaan bercorak Islam yang berada di pulau jawa.

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa. Kerajaan Demak berdiri sekitar abad ke-15 M. Hal ini didasarkan pada saat jatuhnya Majapahit pada tahun 1478 dengan ditandai candrasengkala, sirna ilang kertaning bumi yang artinya tahun 1400 saka. Raja pertama kerajaan Demak adalah Raden Patah, yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah. Raden Patah adalah putra Brawijaya V (Raja  Majapahit terakhir) dengan putri dari Campa.

Kerajaan Demak berkembang menjadi kerajaan besar, di bawah kepemimpinan Raden Patah (1481-1518). Negeri-negeri di pantai utara Jawa yang sdah menganut Islam mengakui kedaulatan Demak. Bahkan kekuasaan Demak meluas ke Sukadana (Kalimantan Selatan), Palembang, dan Jambi. Selain it, Demak juga tumbuh menjadi kerajaan maritim karena letaknya di jalur perdagangan antara Malaka dan Maluku. Oleh karena itu, Kerajaan Demak disebut sebagai sebuah kerajaan yang agraris-maritim.

Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Demak telah berjalan teratur. Pemerintah diatur dengan hukum Islam. Akan tetapi, norma-norma atau tradisi lama tidak ditinggalkan begitu saja. Hasil kebudayaan Kerajaan Demak yang cukup terkenal dan sampai sekarang masih tetap berdiri adalah Masjid Agung Demak. Masjid itu merupakan lambang kebesaran Demak sebagai kerajaan Islam. Masjid Agung Demak selain kaya dengan ukiran-ukiran bercirikan Islam juga memiliki keistimewaan, yaitu salah satu tiangnya dibuat dari kumpulan sisa-sisa kayu bekas pembangunan masjid itu sendiri disatukan (tatal). Selain Masjid Agung Demak, Sunan Kalijaga salah seorang dari Wali Sanga juga pada masa Kerajaan Demak.

Kerajaan Demak dianggap sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Ajaran Islam berkembang dengan pesat karena didukung oleh peranan Walisongo. Demak banyak melahirkan wali, seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Peranan sunan-sunan yang berasal dari Demak ini sangat besar dalam penyebaran Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada masa pemerintahan Raden Patah, ia didampingi oleh Sunan Kalijaga yang sangat berjasa dalam pembangunan Masjid Demak.

Setelah Raden Patah wafat pada tahun 1518, Kerajaan Demak dipimpin oleh Adipati Unus (1518-1521). Ia menjadi Sultan Demak selama tiga tahun. Kemudian ia digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana (1521-1546) melalui perebutan takhta dengan Pangeran Sekar Sedo Lepen. Sultan Trenggana adalah raja denga pengaruh terbesar dalam sejarah Demak. Ia cakap, menguasai birokrasi pemerintahan dan strategi militer, serta memiliki pandangan jauh ke dapan. Sultan Trenggan berhasil meluaskan kekuasaannya ke daerah pedalaman. Ia berhasil menaklukan Daha (Kediri), Madiun, dan Pasuruan. Pada saat melancarkan ekspedisi melawan Panarukan, Sultan Trenggana terbunuh. Pada masa Sultan Trenggana, wilayah kekuasaan Kerajaan Demak sangat luas meliputi Banten, Jayakarta, Cirebon (Jawa Barat), Jawa Tengah, dan sebagian Jawa Timur. Wafatnya Sultan Trenggana (1546) menyebabkan kemunduran Kerajaan Demak, maka muncul kerajaan Pajang.

Masjid Agung Demak

Setelah pusat pemerintahan Kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang. Kekuasaan Kerajaan Demak berakhir dan berdirilah Kerajaan Pajang. Raja Pertama Pajang adalah Sultan Hadiwijaya. Selanjutnya, takhta Demak diserahkan kepada Aria Pangiri (anak Sunan Prawata) sebagai bupati. Perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Islam dari daerah pesisir ke daerah pedalaman menimbulkan gejala baru, antara lain sebagai berikut.

  1. Sultan Hadiwijaya bernama ayahnya dan Syekh Siti Jenar ingin menghidupkan kembali budaya Majapahit yang bercampur dengan paham teosofi melalui ajaran tasawuf yang heterodoks.
  2. Kerajaan Pajang lebih mengutamakan kehidupan bidang agraris dan kurang menaruh perhatian terhadap bidang pertahanan dan perdagangan.
  3. Dareha pesisir (Banten, Cirebon, Gresik) berusaha lepas dari kekuasaan Pajang sebagai Kerajaan merdeka.

Kerajaan Mataram

Keberadaan Kerajaan Mataram lepas kaitannya dengan Pajang yang didirikan oleh Hadiwijaya. Ketika pemerintahan dipegang oleh Pangeran Benowo, banyak terjadi kekacauan sehingga kekuasaan diberikan kepada Sutawijaya. Oleh Sutawijaya inilah cikap bakal berdirinya kerajaan Mataram. Ibu kota terletak di kota Gede. Gelar Sutawijaya adalah Penembahan Senopati. Raja Mataram yang memerintah setelah Penembahan Senopati adalah Mas Jolang (1601-1613) yang dikenal Penambahan Seda Krapyak, Sultan Agung (1613-1645), Amangkurat (1645-1677), Amangkurat II (1727-1749), Paku Buwono III (1749-1788).

Masa Kejayaan Mataram terwujud ketika diperintah Sultan Agung. Dalam bidang politik pemerintah, Sultan Agung berhasil memperluas wilayah Mataram ke berbagai daerah yaitu, Surabaya, Lasem, Pasuruan, dan Tuban. Disamping berusaha menguasai dan mempersatukan berbagai daerah di Jawa, Sultan Agung juga ingin mengusir VOC dari kepulauan Indonesia. Kemudian diadakan dua kali serangan tentara Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Pada masa kepemimpinan Sultan Agung, Mataram mengalami kejayaan dalam berbagai bidang di antaranya dalam bidang perekonomian.

Mataram adalah sebuah negara agraris yang mengutamakan mata pencahariannya dalam bidang pertanian. Kehidupan masyarakatnya berkembang dengan pesat yang didukung oleh hasil bumi yang berupa beras (padi). Di bidang kebudayaan Sultan Agung berhasil membuat kelender Jawa, yang merupakan perpaduan tahun Saka dengan tahun Hijriyah. Dalam bidang seni sastra, Sultan Agung mengarang kitab sastra gending ang berupa kitab filsafat. Sultan Agung juga menciptakan tradisi Syahadatain (dua kalimah syahadat) atau Sekaten, yang sampai sekarang masih dan tetap diadakan di Yogyakarta dan Cirebon setiap tahun.

Peta wilayah kerajaan mataram

Tumbuhnya kerajaan Mataram yang bersifat agraris bersamaan dengan tumbuhnya susunan masyarakat feodal. Susunan masyarakat feodal Mataram dengan penggarap. Ketika kekuasaan Mataram dibagi-bagi oleh pemerintah kolonial Belanda, sistem feodalisme Mataram tetap dipertahankan. Puncak hierarki masyarakat feodal berada di yangan raja. Untuk melambangkan status kebesaran raja dapat dilihat dari bangunan keratonnya. Sultan Agung membangun Keraton Mataram di Karta dan Sitinggil (Yogyakarta) pada tahun 1614 dan 1625 yang dilengkap dengan alun-alun, tembok keliling, pepohonan, masjid besar, dan kolam.

Mataram mengembangkan birokrasi dan struktur pemerintahan yang teratur. Seluruh wilayah kekuasaan Mataram diatur dan dibagi menjadi beberapa bagian, yakni sebagai berikut.

  1. Kutagara atau Kutanegara, yaitu daerah keraton dan sekitarnya.
  2. Negara Agung atau Negari Agung, yaitu daerah-daerah yang ada di sekitar kutagara. Misalnya daerah Kedu, Megelang, Pajang, dan Sukawati.
  3. Mancanegara, yaitu daerah diluar negara agung. Daerah ini meliputi mancanegara wetan (timur), misalnya daerah ponorogo dan sekitarnya, serta mancanegara won (barat), misalnya daerah Banyumas dan sekitarnya.
  4. Pesisiran, yaitu daerah yang ada di pesisir. Daerah ini juga terdapat pesisir kulon (barat), yakni Demak terus ke barat, dan pesisir wetan (timur), yakni Jepara terus ke timur.

Pada tahun 1645, Sultan Agung wafat dan dimakamkan di situs pemakaman di puncak bukit tertinggi di Imogiri, yang ia buat sebelumnya. Kerajaan Mataram kemudian dipimpin oleh putranya, Amangkurat I (1647-1677). Tanda-tanda kemerosotan Kerajaan Mataram pada masa Amangkurat I disebabkan adanya kerja sama dengan Belanda sehingga terjadi pemberontakan Trunojoyo (Madura). Selanjutnya penandatanganan perjanjian Gianti (1755 M) terjadi yang berakibat Mataram dibagi menjadi 2, yaitu Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Agar Belanda makin mudah mengawasi aktivitas raja dan masyarakatnya, Belanda mendekati Mas Said sehingga terjadi perjanjian Salatiga (1757 M) yang membagi Mataram menjadi empat yaitu,

  1. Kasultanan Yogyakarta.
  2. Paku Alaman.
  3. Kasunanan Surakarta.
  4. Mangkunegara.

Dalam Kerajaan Mataram dikenal beberapa lapisan masyarakat yang umumnya terdiri 4 lapisan, yaitu: golongan raja dan keluarga raja, golongan elite, golongan non elite, dan golongan rakyat jelata.

Kerajaan Banten

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pegaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1526, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati yang lebih tersohor dengan sebutan Fattahilah, mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kerajaan Banten.

Sejak saat itu, agama Islam berkembang cepat di Jawa Barat. Banten segera tumbuh menjadi pelabuhan penting di Selat Sunda setelah Malak jatuh ke tangan Portugis (1511). Pada tahun 1552, Faletehan menyerahkan pemerintahan Banten kepada putranya, Hasanuddin. Faletehan kemudian pergi ke Cirebon untuk meluaskan pemerintahan dan mengajukan agama Islam hingga wafat tahun 1570. Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin (1552-1570), wilayah Banten meluas sampai Lampung, Bengkulu, dan Palembang.

Ketika situasi politik dan pemerintahan di Demak kacau, Hasanuddin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Sejak Banten menjadi kerajaan yang bercorak Islam, kehidupan sosial masyarakat Banten secara perlahan dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan Islam. Pengaruh tersebut tidak terbatas di lingkungan daerah perdagangan, tetapi meluas hingga ke pedalaman. Sultan Hasanuddin mangkat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf. Sultan Maulana Yusuf memperluas daerah kekuasaannya ke pedalaman. Pada tahun 1579, kekuasaan Kerajaan Pajajaran dapat dilakukan sejak saat itu berakhirlah kerajaan Hindu di Jawa Barat.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, keadaan aman tentram karena kehidupan masyarakatnya diperhatikan. Misalnya sultan melaksanakan pembangunan kota, membuat benten, dan membangun istana. Bidang pertanian juga diperhatikan, misalnya dengan membangun saluran-saluran irigasi. Sultan Maulana Yusuf mangkat tahun 1580. Ia digantikan oleh putranya, Maulana Muhammad yang baru berusia sembilan tahun. Maulana Muhammad yang bergelar Ratu Banten dibantu oleh Mangkubumi dalam menjalankan pemerintahannya.

Masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad berlangsung tahun 1580-1605. Pada masa itulah pedagang Belanda pertama kali tiba di Banten (1596). Pada tahun 1605, Sultan Banten gagal dalam penyerbuannya ke Palembang. Ia meninggal dalam pertempuran tersebut. Penggantinya adalah Abdulmufakir yang masih kanak-kanak. Abdulmufakir dalam menjalani pemerintahan didampingi wali, yaitu Ranamenggala. Selama pemerintahan Ranamenggala, perdagangan di Banten berkembang pesat.

Masjid Agung Banten

Menginjak abad ke-17 Banten mencapai caman keemasan. Setelah Sultan Abumufakir meninggal, ia digantikan oleh puterannya bernama Abumaali Achmad. Setelah Abumaali Achmad, tampilan sultan yang terkenal, yakni Sultam Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah pada tahun 1651- 1682. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten terus mengalami kemajuan. Letak Banten yang strategis mempercepat perkembangan dan kemajuan ekonomi Banten. Kehidupan sosial budaya juga mengalami kemajuan. Masyarakat umum hidup dengan rambu-rambu budaya Islam.

Secara politik pemerintahan Banten juga semakin kuat. Perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan bahkan sampai ke daerah yang pernah dikuasai Kerajaan Pajajaran. Namun, ada sebagian masyarakat yang menyingkir di pedalaman Banten Selatan karena tidak mau memeluk agama Islam. Mereka tetap mempertahankan agama dan adat istiadat nenek moyang. Mereka dikenal dengan masyarakat Badui. Mereka hidup mengisolir diri ditanah yang disebut tanah Kenekes. Mereka menyebut dirinya orang-orang Kejeroan. Dalam bidang kebudayaan, seni bangunan mengalami perkembangan. Beberapa jenis bangunan yang masih tersisa, antara lain; Masjid Agung Banten, bangunan keraton, dan gapura-gapura.

Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et empera. VOC membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat. Hal ini membawa kemunduran pada Kerajaan Banten.

Itulah penjelasan lengkap mengenai kerajaan Islam di Pulau Jawa (Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram, dan Kerajaan Banten. Sekian dan terima kasih.