Latar Belakang Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

651

Gerakan DI/TII di semua wilayah di Indonesia pada umumnya bertujuan menjadikan Indonesia sebagai negara teokrasi dengan agama Islam sebagai dasar negara. Dalam proklamasinya bahwa “Hukum yang berlaku dalam Negara Islam Indonesia adalah Hukum Islam”, lebih jelas lagi dalam undang-undangnya dinyatakan bahwa “Negara berdasarkan Islam” dan “Hukum yang tertinggi adalah Al Quran dan Hadits”.

Proklamasi Negara Islam Indonesia dengan tegas menyatakan kewajiban negara untuk memproduk undang-undang yang berlandaskan syari’at Islam, dan penolakan yang keras terhadap ideologi selain Alqur’an dan Hadits Shahih.

Sebenarnya tujuan awal dari DI/TII adalah untuk menentang penjajah Belanda di Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu DI/TII memiliki tujuan lain karena didasari oleh beberapa fakto yaitu pertama karena SM. Kartosuwiryo kecewa terhadap kebijakan Soekarno mengenai faham Komunis, dan yang kedua yaitu keinginan Darul Islam untuk mendirikan negara islam indonesia (NII)

Latar Belakang Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Pada dasarnya, pemberontakan DI/TII di seluruh Indonesia memiliki tujuan yang sama yaitu bertujuan untuk menjadikan Republik Indonesia sebagai sebuah negara yang menerapkan dasar agama Islam sebagai dasar negara atau intinya ingin merubah idelogi Pancasila.

Adapun di Jawa Barat Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo (Pemimpin Pemberontakan Darul Islam) mengumumkan bahwa Negara Islam Indonesia telah berdiri di Negara Indonesia dimana gerakan DI/TII ini dibentuk pada saat provinsi Jawa Barat ditinggalkan oleh Pasukan Siliwangi yang sedang berhijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam rangka melaksanakan perundingan Renville.

Saat pasukan Siliwangi tersebut berhijrah, kelompok DI/TII ini dengan leluasa melakukan gerakannya dengan merusak dan membakar rumah penduduk, membongkar jalan kereta api, serta menyiksa dan merampas harta benda yang dimiliki oleh penduduk di daerah tersebut.

Selain itu latar belakang pemberontakan Gerakan DI/TII di Jawa Barat yang dipimpin Soekarmadji Maridjan Kartosuwiryo adalah karena terjadi penarikan pasukan TNI sebagai akibat adanya persetujuan Renvile. Hal ini,disebabkan kesibukan TNI untuk memadamkan pemberontakan PKI di Madiun dan melawan agresi militer Belanda. Akhirnya, pada tanggal 4 Juni 1962, melalui operasi pagar betis, pasukan TNI bersama DI/TII. SM. Kartosuwiryo sendiri tertangkap di gunung Geber, Majalaya dan selanjutnya dijatuhi hukuman mati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here