Perbedaan Qada dan Qadar (Bahasa, Istilah, dan Contoh)

621

Perbedaan Qada dan Qadar – Hidup ini memang penuh dengan warna. Dan ingatlah bahwa hakikat warna-warni kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah Allah tuliskan (tetapkan) dalam kitab “Lauhul Mahfudz” yang terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk Allah yang mengetahui isinya. Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT.Begitu pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita.

Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut dan bencana-bancana lain yang telah melanda bangsa kita adalah atas kehendak, hak, dan kuasa Allah SWT.Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.

Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka kita harus berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, dan berusaha keras untuk menggapai cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap muslim yaitu melihat Rabbul’alamin dan menjadi penghuni Surga. Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun.Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun yang buruk.

Perbedaan Qada dan Qadar (Bahasa, Istilah, dan Contoh)

Allah SWT adalah Zat yang Maha Merajai seluruh alam semesta. Dia mengatur segala sesuatu yang ada di dalam kerajaann-Nya dengan kebijaksanaan dan kehendak-Nya sendiri. Maka dari itu apa saja yang terjadi di alam semesta ini, semuanya berjalan sesuai dengan kehendak yang telah direncanakan sejak semula oleh Allah SWT dan juga mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan dalam alam yang maujud ini. Allah SWT berfirman, “Segala sesuatu itu di sisi Allah adalah dengan ketentuan takdir”. (Q.S. Ar-Ra’d:8).

Dalam hal ini Qadha dan Qadar sering disebut dengan Takdir. Sebagai manusia muslim kita wajib beriman kepada Qadha dan Qadar. Walaupun segala sesuatunya telah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT, namun manusia mukmin diwajibkan berikhtiar dan berusaha mencapai segala yang di cita-citakan demi kebahagiaan dunia dan akhirat.  Oleh sebab itu kita tidak boleh berdiam diri dan pasrah kepada Takdir Allah, tetapi harus berjuang mencari kemaslahatan dunia dan akhirat, serta berusaha menghindari perbuatan mungkar dan maksiat.

Perbedaan Qada dan Qadar Menurut Bahasa

Pengertian Qada menurut bahasa adalah Hukum, ketetapan, pemberitahuan, penciptaan, perintah, dan kehendak. Sedangkan pengertian Qadar menurut bahasa adalah Kepastian, peraturan, dan ukuran

Perbedaan Qada dan Qadar Menurut Istilah

Pengertian Qada menurut Istilah adalah ketetapan Allah sejak zaman azali terkait semua hal yang berhubungan dengan makhluk ciptaan-Nya. Sedangkan pengertian Qadar menurut istilah adalah perwujudan dari ketetapan (qada) Allah terhadap semua yang berkenaan dengan makhluk-Nya yang suda ada sejak zaman azali.

Contoh Qada dan Qadar

Contoh qada yaitu:

  • Rezeki
  • Kematian
  • Kepintaran
  • Jodoh
  • Penampilan fisik
  • Umur

Contoh qada yaitu

  • Orang yang miskin. Tetapi karena ia selalu ikhtiar dan berdoa menjadi kaya.
  • Orang yang bodoh. Tetapi karena ia rajin belajar dan berdoa menjadi pintar.
  • Orang yang sakit. Karena ia rajin berobat menjadi sehat.
  • Seorang ibu yang mengandung dan melahirkan seorang bayi.
  • Seseorang yang tidak kunjung jua mendapat pekerjaan. Tetapi karena ia selalu berusaha dan berdoa, ia mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.

 

Kesimpulan Perbedaan Qada dan Qadar

Qada sendiri adalah suatu ketetapan, hukum dan sebagainya yang masih BISA DIUBAH oleh manusia. Sementara QADAR adalah sebuah kepastian yang TAK BISA DIUBAH lagi oleh manusia.

Hubungan antara Qada, Qadar, Nasib, dengan Ikhtiar

Iman kepada Qadha dan Qadar artinya percaya dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menentukan segala sesuatu bagi makhluknya. Nasib manusia telah ditentukan oleh Allah SWT sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun setiap manusia telah ditentukan nasibnya, tidak berarti bahwa manusia hanya tinggal diam menunggu nasib tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajiban untuk berikhtiar, setelah itu berdo’a. Dengan berdo’a segala urusan kita kembalikan kepada Allah SWT. Dengan demikian apapun yang terjadi kita dapat menerimanya dengan ridha dan ikhlas.