Sejarah Bhineka Tunggal Ika (Singkat)

82

Bhinneka Tunggal Ika merupakan moto atau slogan bangsa Indonesia yang tertulis dalam lambang pancasila dibagian bawah dipegang oleh kedua kaki burung garuda. Bahasa tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Bhineka Tunggal Ika sendiri yang terdapat pada lambang Pancasila merupakan ciptaan Bung Karno setelah Indonesia merdeka, berdasarkan perkataan Bung Hatta. Ketika sidang BPUPKI, Bung Karno, Muhammad Yamin, I Gusti Bagus Sugwira menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bahan diskusi di sela-sela sidang BPUPKI.

Setelah beberapa tahun kemudian, saat pembuatan Lambang Negara Republik Indonesia dalam bentuk Garuda Pancasila, moto atau semboyan Bhinneka Tunggal Ika disisipkan ke dalam lambang garuda tersebut. Namun, semboyan Bhinneka Tunggal Ika ternyata sudah ada sejak dulu, tepatnya pada masa kejayaan kerajaan Majapahit.

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Berdasrakan buku Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara (2012), diungkapkan bahwa Bhineka Tunggal Ika ditemukan dalam Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mmpu Tantular pada abad ke XIV di masa pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Di dalam Kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular tersebut, terdapat tulisan “Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” (Bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu)) merupakan dzat yang berbeda, tetapi nilai kebenaran di dalamnya jina (buddha) dan Siwa (Hindu) adalah tunggal. Dengan demikian berarti terpecah belah, tetapi satu jua, yang memiliki arti “tak ada dharma yang mendua”.

Baca juga: Arti Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Jika bahasa Jawa Kuno tersebut diarikel pada setiap kata, maka secara harfiah mengandung arti “bhineka (beragam), tunggal (satu), dan ika (itu), jadi secara keseluruhan “beragam tapi satu”.

Bhinneka Tunggal Ika di Pancasila

Seperti yang sudah dikelaskan diatas bahwa kalimat atau semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat dapat Lambang Negara Republik Indonesia berasal dari perbincangan Bung Karno, Muhammad Yamin, dan I Gusti Bagus Sugwira dalam sela-sela sidang BPUPKI. Bahkan Bung Hatta mengatakan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno setelah Indonesia merdeka.

Setelah itu, secara resmi lambang tersebut dipakai dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat yang pada waktu itu dipimpin Bung Hatta pada tanggal 11 Februari 1950 berdasarkan rancangan yang dibuat oleh Sultan Hamid II (1913-1978).

Baca juga: Makna Bhineka Tunggal Ika Bagi Bangsa Indonesia

Dalam sidang tersebut muncul beberapa usulan mengenai rancangan lambang negara, kemudian yang dipilih adalah usulan yang dibuat oleh Sultan Hamid II dan Muhammad Yamin, dan rancangan dari Sultan Hamid yang kemudian ditetapkan. Para pendiri bangsa Indonesia yang sebagian besar beragama Islam tampaknya cukup toleran untuk menerima warisan Mpu Tantular tersebut. Sekian dan semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here