Sejarah Kerajaan Banten Lengkap (Sultan, Kejayaan, Kejatuhan)

103
Sejarah Kerajaan Banten Lengkap (Sultan, Kejayaan, Kejatuhan)

Kesultanan Banten ada ketika Kesultanan Demak memperluas pegaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1526, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Kerajaan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, lalu mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Putera Sunan Gunung Jati “Maulana Hasanuddin” yang lebih tersohor dengan sebutan Fattahilah, mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan, yang pada kemudian hari menjadi pusat pemerintahan, yakni Kerajaan Banten.

Sejarah Kerajaan Banten Islam

Sejak saat itu, agama Islam cepat berkembang di Jawa Barat. Banten segera tumbuh menjadi pelabuhan penting di Selat Sunda, setelah Malak jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511. Pada tahun 1552, Faletehan menyerahkan pemerintahan Banten kepada putranya sendiri, Hasanuddin. Setelah itu, Faletehan kemudian pergi ke Cirebon untuk meluaskan pemerintahan dan mengajukan agama Islam hingga wafat pada tahun 1570. Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin antara tahun 1552 hingga 1570, wilayah Banten meluas sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.

Ketika situasi politik dan pemerintahan di Demak kacau, akhirnya Hasanuddin melepaskan diri dari kekuasaan Demak. Sejak Banten menjadi kerajaan yang bercorak Islam, kehidupan sosial masyarakat Banten secara perlahan dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan Islam. Pengaruh tersebut tidak terbatas pada lingkungan daerah perdagangan saja, tetapi meluas hingga ke pedalaman. Sultan Hasanuddin mangkat pada tahun 1570, lalu digantikan oleh putranya, Maulana Yusuf. Di bawah pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, Kerajaan banten mampu memperluas daerah kekuasaannya hingga ke daerah pedalaman. Pada tahun 1579.

Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf, keadaan sangat aman dan tentram karena kehidupan masyarakatnya diperhatikan. Misalnya sultan melaksanakan pembangunan kota, membuat benteng, dan membangun istana. Bidang pertanian juga sangat diperhatikan, misalnya dengan membangun saluran-saluran irigasi. Sultan Maulana Yusuf mangkat pada tahun 1580. Ia digantikan oleh putranya, Maulana Muhammad yang baru berusia sembilan tahun. Maulana Muhammad yang bergelar Ratu Banten tersebut dibantu oleh Mangkubumi dalam menjalankan pemerintahannya.

Masa pemerintahan Sultan Maulana Muhammad berlangsung antara tahun 1580 hinga 1605. Pada masa itulah para pedagang Belanda pertama kali tiba di Banten tahun 1596. Pada tahun 1605, Sultan Banten gagal dalam penyerbuannya ke Palembang. Ia meninggal dalam pertempuran tersebut, akhirnya Abdul mufakir yang masih kanak-kanak ditunjuk sebagai penggantinya. Abdul mufakir dalam menjalani pemerintahan didampingi wali, bernama Ranamenggala. Selama pemerintahan Ranamenggala, perdagangan di Banten cukup berkembang pesat.

Kerajaan Banten Mencapai Kejayaan

Menginjak abad ke-17 Banten mencapai masa kejayaannya. Setelah Sultan Abu mufakir meninggal, ia digantikan oleh puterannya bernama Abumaali Achmad. Setelah Abumaali Achmad, tampilan sultan yang terkenal, yakni Sultam Abdulfattah atau yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia memerintah antara tahun 1651 hingga 1682. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten terus mengalami kemajuan. Letak Banten yang strategis mempercepat perkembangan dan kemajuan ekonomi Banten. Kehidupan sosial budaya pun juga mengalami kemajuan. Masyarakat umum hidup dengan rambu-rambu budaya Islam.

Secara politik, pemerintahan Banten juga semakin kuat. Perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan bahkan hingga ke daerah yang pernah dikuasai Kerajaan Padjajaran. Namun, ada sebagian masyarakat yang menyingkir di pedalaman Banten Selatan karena tidak mau memeluk agama Islam. Mereka tetap mempertahankan agama dan adat istiadat nenek moyang mereka. Mereka dikenal dengan masyarakat Badui. yang hidup mengisolir diri ditanah yang disebut tanah Kenekes. Mereka menyebut dirinya orang-orang Kejeroan. Dalam bidang seni kebudayaan, seni bangunan mengalami perkembangan. Beberapa jenis bangunan yang masih tersisa, antara lain; Masjid Agung Banten, bangunan keraton, dan gapura-gapura.

Kejatuhan Kerajaan Banten ke Tangan VOC

Pada masa akhir pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa timbul konflik di dalam istana. Sultan Ageng Tirtayasa yang berusaha menentang VOC, kurang disetujui oleh Sultan Haji sebagai raja muda. Keretakan di dalam istana ini dimanfaatkan VOC dengan politik devide et empera. VOC akhirnya membantu Sultan Haji untuk mengakhiri kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Berakhirnya kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa membuat semakin kuatnya kekuasaan VOC di Banten. Akhirnya Raja-raja yang berkuasa berikutnya, bukanlah raja-raja yang kuat. Hal ini membawa kemunduran pada Kerajaan Banten. (source: freedomsiana.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here