Tempat Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia

415

Dengan ditemukannya manusia-manusia purba di Indonesia (khususnya di Jawa), membuat Indonesia menjadi terkenal dan penting bagi penelitian sejarah kehidupan dan perkembangan manusia di masa lampau. Indonesia sering mendapat julukan Museum Manusia Purba Dunia, hal tersebut karena banyaknya temuan fosil manusia purba di Indonesia.

Banyaknya temua fosil di Sangiran telah mendorong para ahli untuk terus melakukan penelitian, termasuk penelitian di luar Sangiran. Berikut ini adalah beberapa tempat penemuan penting fosil manusia purba di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

1. Sangiran

Tempat Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia
Situs Sangiran

Situs manusia purba Sangiran terletak ±17 km di sebelah utara solo. Secara administratif terletak di desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Situ manusia purba Sangiran merupakan salah satu situs praaksara di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (UNESCO). Secara geografis kawasan Sangiran terletak di lereng barat Gunung Lawu merupakan suatu cekungan alam yang dikelilingi oleh bukitbukit dengan pundak tertinggi sekitar 180 m dari permukaan aut. Di sebelah utara terdapat jajaran Pegunungan Kendeng dan di sebelah selatan terdapat jajaran Pegunungan Selatan.

Dalam buku Sangiran Menjawab Dunia yang ditulis oleh Harry Widianto dan Truman Simanjuntak dijelaskan bahwa Sangiran merupakan sebuah kompleks situs manusia purba dari kala pleistosen yang paling lengkap dan paling penting di Indonesia dan bahkan di  Asia. Situ Sangiran mempunyai luas 8 x 7 kilometer. Situs Sangiran ini merupakan suatu kubah raksasa berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di bagian puncaknya. Kubah tersebut diwarnai dengan perbukitan yang bergelombang. Kondisi tersebut menyebabkan tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil manusia purba dan binatang.

Sangiran ditemukan pertama kali pada tahun 1864 oleh P.E.C. Schemulling, dengan laporan penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, sebagian dari wilayah Sangiran. Eugene Dubois pernah datang juga ke Sangiran, tetapi Dubois kurang tertarik dengan temuan-temuan di Sangiran. G.H.R. Von Koenigswald 1934 menemukan artefak litik di wilayah Ngebung, sekitar 2 kilometer di barat laut kubah Sangiran. Semenjak penemuan Von Koenigswald tersebut, situs Sangiran menjadi sangat terkenal berkaitan dengan penemuan-penemuan fosil Homo erectus secara sporadis dan berkesinambungan. Fosil Homo erectus ini adalah takson paling penting dalam sejarah manusia sebelum masuk pada tahapan Homo sapiens (manusia modern).

Situs Sangiran ini tidak hanya memberikan gambaran tentang evolusi fisik manusia, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai evolusi budaya, binatang, dan lingkungan. Beberapa fosil yang ditemukan dalam seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa terputus selama lebih dari 2 juta tahun menunjukkan tentang hal tersebut.

Dilihat dari hasil temuannya, situs Sangiran merupakaan situs praaksara yang memiliki pran yang sangat penting dalam memahami proses evolusi manusia dan merupakan situs purbakala yang paling lengkap di Asia bahkan di dunia. Menyadari pentingnya nilai situs Sangiran bagi perkembangan dunia ilmu pengetahuan, khususnya masalah pemahaman evolusi manusia dan lingkungan alam, maka pada tahun 1995 pemerintah Republik Indonesia mengusulkan situs Sangiran ke UNESCO untuk dapat dimasukkan ke dalam Wordl Heritage List.

Akhirnya pada tanggal 5 Desember 1996, situs Sangiran ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, yaitu The Early Man Site. Salah satu pertimbangan situs manusia purba Sangiran ditetapkan sebagai warisan budaya dunia karena di Sangiran tersimpan ribuah peninggalan manusia purba yang menunjukkan proses kehidupan manusia dari masa lalu. Setelah situs manusia purba Sangiran ditetapkan sebagai warisan dunia, situs manusia purba Sangiran dikembangkan sebagai pusat penelitian dalam negeri dan luar negeri, serta menjadi tempat wisata.

2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur

Tempat Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia
Situs Trinil

Trinil adalah salah satu situs paleoantropologi di Indonesia yang lebih kecil dibandingkan situs Sangiran. Tempat ini terletak di desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, kira-kira 13 kilometer sebelum pusat kota Ngawi dari arah kota Solo. Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba (tepatnya zaman pleistosen tengah). Pada tahun 1893, Dubois (seorang ahli anatomi) menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus erectus serta berbagai fosil hewan dan tumbuhan purba.

Di Trinil berdiri sebuah museum yang menempati area seluas tiga hektare dengan koleksi di antaranya fosil tengkorak Pithecanthropus erectus, fosil tulang rahan bawah macan purba (Felis tigris), fosil gading dan gigi geraham atas gajah purba (Stegodon trigonocephalus), dan fosil tanduk banteng purba (Bibos palaeosondaicus). Situs ini dibangun atas prakarsa dari ahli antropologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Teuku Jacob.

Tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil ini sangat pendek, tetapi memanjang ke belakang. Volume otaknya sekitar 900 cc, diantara otak kera (600 cc) dan otak manusia modern (1.200 – 1.400 cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian belakang mata terdapat penyempitan yang sangat jelas, menandakan otak belum berkembang. Pada bagian belakang kepada terlihat bentuk yang meruncing yang diduga atau diperkirakan manusia purba berjenis kelamin perempuan. Berdasarkan sambungan perekatan antartulang kepada, ditafsirkan manusia purba ini telah mencapai usia dewasa.

3. Wajak, Tulungagung, Jawa Timur

Tempat Penemuan Fosil Manusia Purba di Indonesia
Situs Wajak

Wajak merupakan desa yang terletak di Tulungagung, Jawa Timur. Pada tahun 1889, B.D. Van Rietschoten menemukan manusia Wjak di sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di barat laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Fosil temuan tersebut, kemudian diserahkan kepada C.P. Sluiter (curator dari Koninklijke Vereeniging/Perkumpulan Ahli Ilmu Alam) di Batavia. Oleh C.P. Sluiter fosil temuan tersebut, kemudian diserahkan kepada Eugene Dubois.

Fosil temuan tersebut bagi Dubois membuka harapan baru untuk menemukan missing link asal-usul manusia purba. Hal itu sesuai teori ahli geologi Verbeek yang sepakat bahwa pegunungan batu gamping tersier di Jawa sangat menjanjikan bagi riset yang dilakukan Dubois. Akhirnya Dubois selama lima tahun tinggal di Tulungagung. Dubois menyusur kembali tempat temua B.D. Van Rietschoten. Di sekitar tempat tersebut,  Dubois selain mendapatkan sisa fosil reptil dan mamalia, juga menemukan fosil tengkorak manusia meskipun tidak seutuh temuan B.D Van Rietschoten. Fosil tersebut dinamakan Homo wajakensis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here