Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia (Lengkap)

642

Terbentuknya kepulauan Indonesia – Adanya fenomena alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas panjang bumi sejak proses terjadinya alam semesta ratusan, bahkan ribuan juta tahun yang lalu. Proses tersebut secara geologis mengalami beberapa tahapan atau pembabakan waktu. Ada banyak teori mengenai penciptaan bumi, mulai dari mitos sampai penjelasan agama dan ilmu pengetahuan.

Salah satu teori ilmiah mengenai terbentuknya bumi adalah teori dentuman besar (big bang). Sasalah satu ilmuan pendikung teori dentuman besar adalah Stephen Hawking, ilmuan dari Inggris. Teori dentuman besar menyatakan bahwa alam semesta mulanya berbentuk gumpalan gas yang mengisi seluruh ruang jagat raya. Bila digunakan teleskop besar Mount Wilson ntuk mengamatinya akan terlihat ruang jagat raya tersebut yang luasnya mencapai radius 500.000.000 tahun cahaya.

Gumpalan gas tersebut suatu saat meledak dengan satu dentuman yang amat dahsyat.  Setelah itu, materi yang terdapat di alam semesta mulai berdesakan satu sama lain dalam kondisi suhu dan kepadatan yang sangat tinggi sehingga hanya tersisa energi proton, neutron, dan elektron yang bertebaran ke seluruh arah.

Ledakan dahsyat tersebut menimbulkan gelembung-gelembung alam semesta yang menyebar dan menggembung ke seluruh penjuru sehingga membentuk galaksi bintang-bintang, matahari, planet-planet, bumi, bulan, dan meteorid. Bumi yang kita pijak ini hanyalah salah satu titik kecil di antara tata surya yang mengisi alam semesta. Ssistem alam semesta dengan semua benda langit sudah tersusun secara menakjubkan dan masing-masing beredar secara teratur serta rapi pada sumbunya masing-masing.

Perkembangan selanjutnya, proses evolusi alam semesta ini memerlukan waktu kosmologis yang sangat lama sampai beribu-ribu juta tahun. Terjadinya evolusi bumi sampai dengan adanya kehidupan membutuhkan waktu yang sangat panjang. Ilmu paleontologi membagi dalam tahap-tahap waktu geologis. Masing-masing tahap ditandai oleh peristiwa alam yang menonjol, seperti munculnya gunung-gunung, benua, dan makhluk hidup yang paling sederhana.

Baca selengkapnya mengenai 4 Periode Evolusi Bumi: Azoikum, Paleozoikum, Mesozoikum, Neozoikum

Sejarah Terbentuknya Kepulauan di Indonesia

Merujuk pada tarikh bumi tersebut, sejarah di kepulauan Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang. Sebelum manusia mendiami bumi, kepulauan ini hanya diisi oleh flora dan fauna yang masih sangat kecil dan sederhana. Gugusan kepulauan yang kita temukan ini terletak di antara dua benua dan dua samudra, yaitu antara Benua Asia di utara, dan Australia di selatan, antara Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di belahan timur. Faktor letak tersebut memiliki peran strategis sejak zaman kuno hingga sekarang.

Posisi pulau-pulau di kepulauan Indonesia menurut para ahli bumi terletak di atas tungku api yang bersumber dari magma dalam perut bumi. Inti perut bumi berupa lava cair bersuhu tinggi. Makin ke dalam tekanan, sehunya semakin tinggi. Pada suhu tinggi tersebut material-material akan meleleh seingga material di bagian dalam bumi selalu berbentuk cairan panas. Suhu tinggi tersebut terus-menerus bergejolak mempertahankan cairan sejak jutaan tahun lalu. Pada waktu ada celah lubang keluar, cairan tersebut keluar berbentuk lava cair. Pada wkatu itu lava mencapai permukaan bumi, suhu menjadi lebih dingin dari ribuan derajat menjadi hanya bersuhu normal sekitar 30°. Pada suhu ini, cairan lava akan membeku membentuk batuan beku atau kerak. Keberadaan kerak benua dan kerak samudra selalu bergerak secara dinamis akibat tekanan magma dari perut bumi.

Pada masa paleozoikum keadaan geografis kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang. Pada akhir masa mesozoikum kegiatan tektonis ini menjadi sangat aktif menggerakkan lempeng-lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal sebagai fase tektonis (orogenesa laramy) yang menyebabkan daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau terpisah, sebagian di antaranya bergerak ke selatan membentuk Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan Banda.

Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia (Lengkap)

Pada Benua Australia juga terjadi hal yang sama. Sebagian pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor, Kepulauan Nusa Tenggara, dan sebagian Maluku Tenggara. Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua itu mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil. Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk rangkaian kepulauan Indonesia pada masa tersier.

Sebagai akibat terjadinya proses kenaikan permukaan laut dan transgresi, sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan, dan Jawa telah tenggelam menjadi laut dangkal. Pada masa itu, Sulawesi sudah mulai terbentuk, sedangkan Papua sudah mulai bergerser ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu gamping.

Pada kala pliosen terjadi pergerakan tektonis yang kuat sehingga mengakibatkan terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan vilkanis. Selanjutnya, menimbulkan tumbuhnya rangkaian perbukitan struktural seperti perbukitan besar (gunung) dan perbukitan tektonis dan vulkanis terus aktif hingga pada awal masa pleistosen yang dikenal sebagai kegiatan tektonis plio-pleistosen yang berlangsung di seluruh kepulauan Indonesia.

Rangkaian perbukitan struktural dan gunung api aktif tersebar di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke sepanjang Pulau Jawa ke arah timur sampai Kepulauan Nusa Tenggara serta Kepulauan Banda, terus membentang sepanjang Sulawesi Selatan dan Utara. Pembentukan daratan yang luas tersebut telag membentuk kepulauan Indonesia pada kedudukan pulau-pulau seperti sekarang. Jadi, pulau-pulau di kawasan kepulauan Indonesia masih terus bergerak secara dinamis sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa (baik vulkanis maupun tektonis).

Letak kepulauan Indonesia yang ada di deretan gunung api membuat kepulauan Indonesia menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi. Dengan kekayaan alam dan kondisi geografis tersebut mendorong para peneliti datang ke Indonesia. Salah satu peneliti yang terkenal adalah Alfred Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang berbeda berdasarkan ciri khusus, baik fauna maupun floranya.

Pembagian tersebut adalah paparan Sahul di sebelah timur dan paparan Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut dikenal sebagai wilayah Wallace, pembatas fauna yang membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna yang ada di sebelah barat garis pembatas disebut dengan Indo-Malayan region, sedangkan fauna-fauna yang ada di sebelah timur disebut dengan Australia Malayan region, garus itulah yang dikenal dengan garis Wallace.

Dengan merujuk pada tarikh bumi tersebut, keberadaan manusia di muka bumi dimulai pada zaman kuarter. Zaman kuarter disebut juga dengan zaman es. Mengapa dinamakan dengan zaman es? Dinamakan zaman es karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sampai menutupi sebagian besar permukaan bumi dari Eropa Utara, Asia Utara, dan Amerika Utara. Terjadinya peristiwa tersebut karena panas bumi tidak tetap, ada kalanya naik dan ada kalanya turun. Jika suhu panas bumi turun drastis, es akan mencapai luas yang sebesar-besarnya dan air laut akan turun atau disebut dengan zaman glasial. Namun sebaliknya, jika suhu panas baik, es akan mencair dan permukaan laut akan naik yang disebut dengan zaman interglasial.

Sejarah Terbentuknya Kepulauan Indonesia (Lengkap)

Selama zaman diluvium (pleistosen), zaman glasial dan zaman interglasial berlangsung silih berganti, hal tersebut menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia yang kemudian memengaruhi keadaan bumi serta kehidupan termasuk manusia. Hewan-hewan berbulu tebal yang mampu bertahan hidup mulai ada pada kala pleistosen ini. Salah satunya adalah gajah berbulu tebal (Mammuthus). Hewan yang berbulu tipis pindah ke daerah tropis. Perpindahan binatang dari Asia Daratan ke Jawa, Sulawesi, dan Filipina ada yang melalui Malaysia ke Jawa (jalan barat) ada pula yang melalui Formosa, Filipina ke Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi (jalan timur).

Meskipun untuk zaman aluvium (holosen) berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang. Sejak zaman ini adanya perkembangan kehidupan manusia mulai terlihat secara nyata, meskipun dalam taraf yang sangat sederhana, baik fisik maupun kemampuan berpikirnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here